SEBATANG ROKOK
Mataku terkapar, ke arah rokok
yang tinggal sebatang
Barang ini membawa cinta bagi
kematian anak pecundang
Mataku binal, ke arah rokok yang
tinggal sebatang
Barang ini membawa rindu bagi
ngilu pemuda telanjang
Sudah dua pekan, engkau ambruk
Karena sebatang rokok yang engkau gengam
Dulu kau katakan barang ini
sebuah ramuan
Nyatanya, ini mendekapkan kebinasaan
Tidakaah lebih baik kita
tinggalkan
Demi menghindar suatu kebatilan
Tidakah lebih baik kita jauhkan
Demi nyawa yang masih tersimpan
Purworejo, 19/10/15, 9.52
SEBATANG ROKOK II
Waktu itu di dalam bus.....
Ada seribu mata yang memandang
Dengan kepul asapmu masih dengan
arogan engkau tetap hisap
Sebatang rokok yang tersisa
Kau katakan ini bukti pejantan
Lalu, datang seorang laki-laki
tanpa rokok
Kau kepulkan asap rokomu yang
tinggal sebatang di mukanya
Ia hanya terdiam dan katakan aku
bukan kau
Kau katakan pecundang!
Dan laki-laki itu berkata kau
akan mati di tanganku!
Kami bayar di sini
Aku tak peduli! Akan ku sikat kau
di sini!
Kami berhenti dan sebatang rokok
ditekan di atas kursi!
Purworejo, 19/10/15, 9.52
PUTUNG
ROKOK
Oleh
Nurul Setyorini
Ia jauh-jauh berlari, loncati
pagar, loncati tembok, loncati gunung, sawah, dan pertenakan.
Ia tak peduli mati, melawan berandal
dan antek-anteknya, bahkan ia berani melawan presiden sekalipun.
Ia bukan penakut, toh satu
ketakutanya hanya pada tuhan.
Kalau ia diam saat berdebat
dengan istri, mertua, dan orang tuanya bukan karena ia takut, tetapi satu
alasan ia hormat!
Ia pemberani, dengan singa
sekalipun tetap ia lawan!
Toh singa melihat mukanya saja
takut.
Mukanya ganas, mukanya lebih
ganas dari pada singa gila!
Lantas kenapa berlari?
Aku berlari mengejar warisan
Uang, baju, celana, televisi, kasur, bantal?
Bukan, bukan itu mauku
Wasisanku putung rokok!
Purworejo, 19/10/15, 9.52
ADA
ROKOK DAN KOPI GRATIS
Manusia hambur-berhamburan,
datang-berdatangan
Karena satu alasan “Ada Rokok dan
Kopi Gratis”
Manusia saling pukul, sebab
giliranya diserubut orang lain
Manusiapun saling bacok, sebab
rokok diinjak-injak dan kopi dijatuhkan
Mereka merindukan rokok dan
kopinya
Padahal rindunya bergolak
Mereka mendambakan rokok dan
kopinya
Padahal dambaanya memberontak
Sebab kopi menghentikan detak
jantung
Dan rokok membakar denyut nadi
Manusia lupa
Manusia lalai
Jika “Ada Rokok dan Kopi Gratis”
Semestinya sadar
Apakah ada denyut nadi dan detak
jantung murah?
Purworejo, 19/10/15, 9.52
PUTUNG ROKOK II
Tentang sebuah putung rokok
Sebuah sisa yang mulai tandas
Asap tebal mengawan di mataku
Berlari-lari membentuk haluan
baris berbaris
Putung rokok itu bertanya
Pada aku yang duduk di tepi
pantai
Apa yang aku cari dari sesuatu
yang berdebur?
Aku berdiri dan menatap jauh ke
samudra lepas
Di sana hanya ada angin, air,
pasar, dan tanah
Lantas aku bertanya pada putung
rokok, mengapa ombak ada diantara pergerakanya?
Asap putung rokok menebal
Ia berlari-lari ke mataku
Ia bertanya, mengapa ada pertanyaan
sedang aku tak mengerti jawabanya?
Kini aku berdiri di atas kursi
Aku berteriak “aku yang lebih
bernyawa dari pada engkau putung rokok”
Dan aku meloncat sembari
memunggut putung rokok
Jika aku saja tak mengerti
mengapa pula aku menahanmu sebagai sampah?!
Magelang, 19/10/2015, 17. 22
PUTUNG
ROKOK III
Di kursi tua itu
Kakek duduk menyulut putung rokok
Lalu ia menghisabnya dan
mengepulkan asapnya di udara
Ia berkali-kali berkata pada kakek
tua
Aku tahu, aku sudah terlalu tua
Kau sulut aku hingga habis
Aku tak mengapa
Kau lebur aku
Ataukah aku buang ke tong sampah
bahkan air yang mengalirpun aku tak mengapa
Aku hanyalah putung rokok
Aku akan karam di makan zaman
Kini katakanlah padaku kakek
Siapa diantara kita yang abadi?
Purworejo, 29/10/15, 7. 32
CATATAN
DI SELEMBAR BUNGKUS ROKOK
Selasa pagi ini
Ada selembar kertas bungkus rokok
berwarna merah
Aku tulis sebuah huruf
Satu Huruf, Dua Huruf, Tiga
Huruf, Empat Huruf, Lima Huruf, Enam Huruf, dan Tujuh Huruf
“H”
Mungkin
Holistik, Holiday, Honey, Hunter,
Homestay, Hamlet, Habilitate, Habitation, Hebenula, Habituasi
“I:
Mungkin
Ibar-ibar, Idem, Ideofon,
Ideogrom, Idep, Idel, Ideografis, Ideot, Ideal, Idaman
“M”
Mungkin
Maskulinitas, Menstruasi,
Mimikri, Melankolis, Meaning, Morfologi, Metarmofosis
“A”
Mungkin
Abstrak, Abstrud, Abaca, Ability,
Abnormal, Animisme, Asmara, Antara, Angkasa, Asosiasi, Ambruadol
“W”
Mungkin
Wild, Wily, Well, Waktu, Wanita,
Wanito, Wagu, Wedos
“A”
Mungkin
Air, Amin, Apas, Apes, Atur,
Ambisi
“N”
Mungkin
Name, Nona, Noni, Nerbola, Nina,
Nana, Nunu, Nonsense
Ada selembar kertas bungkus rokok
berwarna merah
Aku catat sesuatu
Mungkin benda, hewan, atau tanda
Mungkin
Bandul, Hamster, Bakso, Roti,
Buku
Mungkin aku rindu
Pada tempat yang kusebut Jatimalang
Purworejo, 20/10/15, 8.48
ADA ROKOK?
Ada rokok?
Ia bertanya, aku berlari
Ada rokok?
Ia bertanya, kami berlari
Ada rokok?
Ia bertanya, dia berlari
Ada rokok?
Ia bertanya, Ibu berlari
Ada rokok?
Ia bertanya, Ayah berlari
Ada rokok?
Ia bertanya, kakek berlari
Ada rokok?
Ia bertanya, adik berlari
Ada rokok?
Ia bertanya, pacar berlari
Ada rokok?
Ia bertanya, tikus-tikus berlari
Ada rokok?
Ia bertanya, presiden berlari
Ada rokok?
Ia bertanya, ia sendiri berlari
Lalu siapa yang berlari?
Siapa lagi yang bertanya?
Mari kita sama- sama berlari dan
bertanya
Purworejo, 20/10/15, 9. 48
HUJAN
DAN SEBATANG ROKOK
Rerintikan hujan telah kuhitung
Gemuruh menyapaku berkali-kali
Desas nafasku perlahan memuja
namamu wahai wanita....
Di mana engkau kini berada?
Hatiku sepi sendingin ini
Aku kesepian, tanpa belaimu
perempuan
Hanya sebatang rokok yang kutemui
Hujan gerimis melambaikan kepak
sayapmu
Ia berkata:
Aku sang hujan yang melupakan
terang
Aku sang kabut dingin yang
melupakan panas
Dan ia mendesah:
Hanya dia “sebatang rokok”
Yang melambaikan kepul kehangatan
asapnya
Hanya dia “sebatang rokok”
Yang menyulut bara kobaran panas
Purworejo, 22/10/15, 10. 58
ROKOK
Rokok oh rokok mana amarahmu?
Kami bakar kau hingga habis kau
hanya diam
Kami bakar kau dengan api menyala
kau hanya membisu
Rokok oh rokok mana teriakanmu?
Kami hisab kau hingga mengempis
kau hanya diam
Kami buang kau ke tumpukan sampah
kau hanya membisu
Rokok berkata:
Apa guna kami berbicara?
Apa guna kami berteriak
Toh kami hanya benda mati tapi
dinikmati
Purworejo, 23/10/15, 13. 45
BAKAR
DENGAN UJUNG ROKOK ITU!
Masih teringat kita duduk di
beranda
Penuh angkuh dan kegoisan
Sedangkan ada yang lewat ingin
sekadar untuk duduk
Kita berkata ini tempat duduk
para kasta tinggi
Kau kasta rendah duduklah d,i
emperan empang
Kita berdua menyulut dengan lidah
kering kita
Cerutu yang memabukkan
Ada orang lewat ingin sekadar
menompang korek api untuk menyulut rokoknya
Kita berkata ini korek api para
kasta tinggi
Kau kasta rendah sulutlah rokokmu
dengan bara di dapurmu
Saat itu pagi,
Pagi kelam dengan keangkuhan
Lagak kami yang sok kuasa
Sok berjalan gagah padahal tak
ingat tua
Saat tua nanti kita bungkuk
Muka keribut
Buta mata
Bisu mulut
Dan tuli telinga
Sedang keangkuhanku memburamkan
masa depanku yang begitu
Kasta... apa itu kasta?
Semacam bau semerbak dalam potong
rokok yang tercampur kemenyan
Apa itu kasta?
Bau sembako yang terbakar
Ataukah apa itu kasta?
Semacam nikotin yang memabukan
dan tersulut di dalam rokok
Benar sekali itulah kasta
Kasta semacam keangkuhan bagi
kami para pemilik kesombongan
Padahal terik mataharipun kelak
berubah warna
Dan rembulan kelak tak bersinar
lagi
Sebab bintang kelak pergi menjauh
ke pluto di angkasa sana
Kesombongan ini laik untuk di
bakar
Bakar dengan ujung rokok itu!
Magelang, 26/10/15, 8.42
PETUAH SEGUMPAL ROKOK
Malam itu, kakek duduk di beranda
rumah
Aku menatap di jendela rumahku
Nampak ia menyulut rokok dan
mengepulkan asapnya di udara
Asapnya mengepul seraya
bercoleteh dengan awang-awangku
Tatap dirimu tuan.... apakah
mimpimu hanya sekadar dunia!
Apakah mimpimu tentang wanita itu
semata
Siapa dia?
Dia bidadari ataukah malaikat
Malaikat apakah ia?
Malaikat kecilmu
Ataukah...
Malaikat pencabut nyawamu
Lihatlah dirimu tuan!
Kau kini menggila
Perempaun itu, tanpa sengaja
Menggerogoti tubuhmu
Tubuh mudamu yang nampak tua dan
berkeriput
Ia perempuan menikam mati
bangkaimu
Direjang dengan kebuasan seksual
Lihatlah dirimu tuan!
Tuan siapa? Tuan ini mau apa?
Ia bukan tuhan
Ia bukan malaikat
Iapun bukan bidadari
Ia si perempuan jalang
Pergi!
Pergi menjauh
Jauh dariku
Jauh dari hidupku
Jauh...
Aku ingin hidup lebih lama
Seribu abad lagi
Tanpamu perenmpuan
Malam kelam berlarut
Kakek mebinasakan bara rokok
Asap rokok itu pergi
Aku mencari
Mencarimu asap rokok
Di mana? Di mana kamu
Aku ingin berceloteh lama lagi
Sayang, ia berlari
Menjauh...
Magelang, 26/10/15, 11. 13