Sabtu, 14 November 2015

nurul setyorini

SEBATANG ROKOK

Mataku terkapar, ke arah rokok yang tinggal sebatang
Barang ini membawa cinta bagi kematian anak pecundang

Mataku binal, ke arah rokok yang tinggal sebatang
Barang ini membawa rindu bagi ngilu pemuda telanjang

Sudah dua pekan, engkau ambruk
Karena  sebatang rokok yang engkau gengam

Dulu kau katakan barang ini sebuah ramuan
Nyatanya, ini mendekapkan kebinasaan

Tidakaah lebih baik kita tinggalkan
Demi menghindar suatu kebatilan

Tidakah lebih baik kita jauhkan
Demi nyawa yang masih tersimpan

Purworejo, 19/10/15, 9.52


SEBATANG ROKOK II
Waktu itu di dalam bus.....

Ada seribu mata yang memandang
Dengan kepul asapmu masih dengan arogan engkau tetap hisap
Sebatang rokok yang tersisa

Kau katakan ini bukti pejantan
Lalu, datang seorang laki-laki tanpa rokok
Kau kepulkan asap rokomu yang tinggal sebatang di mukanya

Ia hanya terdiam dan katakan aku bukan kau
Kau katakan pecundang!
Dan laki-laki itu berkata kau akan mati di tanganku!

Kami bayar di sini
Aku tak peduli! Akan ku sikat kau di sini!
Kami berhenti dan sebatang rokok ditekan di atas kursi!

Purworejo, 19/10/15, 9.52


PUTUNG ROKOK
Oleh Nurul Setyorini

Ia jauh-jauh berlari, loncati pagar, loncati tembok, loncati gunung, sawah, dan pertenakan.
Ia tak peduli mati, melawan berandal dan antek-anteknya, bahkan ia berani melawan presiden sekalipun.
Ia bukan penakut, toh satu ketakutanya hanya pada tuhan.
Kalau ia diam saat berdebat dengan istri, mertua, dan orang tuanya bukan karena ia takut, tetapi satu alasan ia hormat!

Ia pemberani, dengan singa sekalipun tetap ia lawan!
Toh singa melihat mukanya saja takut.
Mukanya ganas, mukanya lebih ganas dari pada singa gila!
Lantas kenapa berlari?

Aku berlari mengejar warisan
Uang, baju, celana, televisi, kasur, bantal?
Bukan, bukan itu mauku
Wasisanku putung rokok!

Purworejo, 19/10/15, 9.52


ADA ROKOK DAN KOPI GRATIS

Manusia hambur-berhamburan, datang-berdatangan
Karena satu alasan “Ada Rokok dan Kopi Gratis”
Manusia saling pukul, sebab giliranya diserubut orang lain
Manusiapun saling bacok, sebab rokok diinjak-injak dan kopi dijatuhkan

Mereka merindukan rokok dan kopinya
Padahal rindunya bergolak
Mereka mendambakan rokok dan kopinya
Padahal dambaanya memberontak

Sebab kopi menghentikan detak jantung
Dan rokok membakar denyut nadi
Manusia lupa
Manusia lalai
Jika “Ada Rokok dan Kopi Gratis”
Semestinya sadar
Apakah ada denyut nadi dan detak jantung murah?

Purworejo, 19/10/15, 9.52


 PUTUNG ROKOK II

Tentang sebuah putung rokok
Sebuah sisa yang mulai tandas
Asap tebal mengawan di mataku
Berlari-lari membentuk haluan baris berbaris

Putung rokok itu bertanya
Pada aku yang duduk di tepi pantai
Apa yang aku cari dari sesuatu yang berdebur?

Aku berdiri dan menatap jauh ke samudra lepas
Di sana hanya ada angin, air, pasar, dan tanah
Lantas aku bertanya pada putung rokok, mengapa ombak ada diantara pergerakanya?

Asap putung rokok menebal
Ia berlari-lari ke mataku
Ia bertanya, mengapa ada pertanyaan sedang aku tak mengerti jawabanya?

Kini aku berdiri di atas kursi
Aku berteriak “aku yang lebih bernyawa dari pada engkau putung rokok”
Dan aku meloncat sembari memunggut putung rokok
Jika aku saja tak mengerti mengapa pula aku menahanmu sebagai sampah?!

Magelang, 19/10/2015, 17. 22


PUTUNG ROKOK III


Di kursi tua itu
Kakek duduk menyulut putung rokok
Lalu ia menghisabnya dan mengepulkan asapnya di udara
Ia berkali-kali berkata pada kakek tua
Aku tahu, aku sudah terlalu tua
Kau sulut aku hingga habis
Aku tak mengapa
Kau lebur aku
Ataukah aku buang ke tong sampah bahkan air yang mengalirpun aku tak mengapa
Aku hanyalah putung rokok
Aku akan karam di makan zaman
Kini katakanlah padaku kakek
Siapa diantara kita yang abadi?

Purworejo, 29/10/15, 7. 32


CATATAN DI SELEMBAR BUNGKUS ROKOK


Selasa pagi ini
Ada selembar kertas bungkus rokok berwarna merah
Aku tulis sebuah huruf
Satu Huruf, Dua Huruf, Tiga Huruf, Empat Huruf, Lima Huruf, Enam Huruf, dan Tujuh Huruf
“H”
Mungkin
Holistik, Holiday, Honey, Hunter, Homestay, Hamlet, Habilitate, Habitation, Hebenula, Habituasi
“I:
Mungkin
Ibar-ibar, Idem, Ideofon, Ideogrom, Idep, Idel, Ideografis, Ideot, Ideal, Idaman
“M”
Mungkin
Maskulinitas, Menstruasi, Mimikri, Melankolis, Meaning, Morfologi, Metarmofosis
“A”
Mungkin
Abstrak, Abstrud, Abaca, Ability, Abnormal, Animisme, Asmara, Antara, Angkasa, Asosiasi, Ambruadol
“W”
Mungkin
Wild, Wily, Well, Waktu, Wanita, Wanito, Wagu, Wedos
“A”
Mungkin
Air, Amin, Apas, Apes, Atur, Ambisi
“N”
Mungkin
Name, Nona, Noni, Nerbola, Nina, Nana, Nunu, Nonsense

Ada selembar kertas bungkus rokok berwarna merah
Aku catat sesuatu
Mungkin benda, hewan, atau tanda
Mungkin
Bandul, Hamster, Bakso, Roti, Buku

Mungkin aku rindu
Pada tempat yang kusebut Jatimalang


Purworejo, 20/10/15, 8.48






ADA ROKOK?

Ada rokok?
Ia bertanya, aku berlari

Ada rokok?
Ia bertanya, kami berlari

Ada rokok?
Ia bertanya, dia berlari

Ada rokok?
Ia bertanya, Ibu berlari

Ada rokok?
Ia bertanya, Ayah berlari

Ada rokok?
Ia bertanya, kakek berlari

Ada rokok?
Ia bertanya, adik berlari

Ada rokok?
Ia bertanya, pacar berlari

Ada rokok?
Ia bertanya, tikus-tikus berlari

Ada rokok?
Ia bertanya, presiden berlari


Ada rokok?
Ia bertanya, ia sendiri berlari

Lalu siapa yang berlari?
Siapa lagi yang bertanya?
Mari kita sama- sama berlari dan bertanya

Purworejo, 20/10/15, 9. 48







HUJAN DAN SEBATANG ROKOK



Rerintikan hujan telah kuhitung
Gemuruh menyapaku berkali-kali
Desas nafasku perlahan memuja namamu wahai wanita....
Di mana engkau kini berada?
Hatiku sepi sendingin ini
Aku kesepian, tanpa belaimu perempuan
Hanya sebatang rokok yang kutemui

Hujan gerimis melambaikan kepak sayapmu
Ia berkata:
Aku sang hujan yang melupakan terang
Aku sang kabut dingin yang melupakan panas

Dan ia mendesah:
Hanya dia “sebatang rokok”
Yang melambaikan kepul kehangatan asapnya
Hanya dia “sebatang rokok”
Yang menyulut bara kobaran panas

Purworejo, 22/10/15, 10. 58




ROKOK


Rokok oh rokok mana amarahmu?
Kami bakar kau hingga habis kau hanya diam
Kami bakar kau dengan api menyala kau hanya membisu

Rokok oh rokok mana teriakanmu?
Kami hisab kau hingga mengempis kau hanya diam
Kami buang kau ke tumpukan sampah kau hanya membisu

Rokok berkata:
Apa guna kami berbicara?
Apa guna kami berteriak
Toh kami hanya benda mati tapi dinikmati

Purworejo, 23/10/15, 13. 45





BAKAR DENGAN UJUNG ROKOK ITU!


Masih teringat kita duduk di beranda
Penuh angkuh dan kegoisan
Sedangkan ada yang lewat ingin sekadar untuk duduk
Kita berkata ini tempat duduk para kasta tinggi
Kau kasta rendah duduklah d,i emperan empang
Kita berdua menyulut dengan lidah kering kita
Cerutu yang memabukkan
Ada orang lewat ingin sekadar menompang korek api untuk menyulut rokoknya
Kita berkata ini korek api para kasta tinggi
Kau kasta rendah sulutlah rokokmu dengan bara di dapurmu
Saat itu pagi,
Pagi kelam dengan keangkuhan
Lagak kami yang sok kuasa
Sok berjalan gagah padahal tak ingat tua
Saat tua nanti kita bungkuk
Muka keribut
Buta mata
Bisu mulut
Dan tuli telinga
Sedang keangkuhanku memburamkan masa depanku yang begitu
Kasta... apa itu kasta?
Semacam bau semerbak dalam potong rokok yang tercampur kemenyan
Apa itu kasta?
Bau sembako yang terbakar
Ataukah apa itu kasta?
Semacam nikotin yang memabukan dan tersulut di dalam rokok
Benar sekali itulah kasta
Kasta semacam keangkuhan bagi kami para pemilik kesombongan
Padahal terik mataharipun kelak berubah warna
Dan rembulan kelak tak bersinar lagi
Sebab bintang kelak pergi menjauh ke pluto di angkasa sana
Kesombongan ini laik untuk di bakar
Bakar dengan ujung rokok itu!


Magelang, 26/10/15, 8.42





PETUAH SEGUMPAL ROKOK

Malam itu, kakek duduk di beranda rumah
Aku menatap di jendela rumahku
Nampak ia menyulut rokok dan mengepulkan asapnya di udara
Asapnya mengepul seraya bercoleteh dengan awang-awangku
Tatap dirimu tuan.... apakah mimpimu hanya sekadar dunia!
Apakah mimpimu tentang wanita itu semata
Siapa dia?
Dia bidadari ataukah malaikat
Malaikat apakah ia?
Malaikat kecilmu
Ataukah...
Malaikat pencabut nyawamu
Lihatlah dirimu tuan!
Kau kini menggila
Perempaun itu, tanpa sengaja
Menggerogoti tubuhmu
Tubuh mudamu yang nampak tua dan berkeriput
Ia perempuan menikam mati bangkaimu
Direjang dengan kebuasan seksual
Lihatlah dirimu tuan!
Tuan siapa? Tuan ini mau apa?
Ia bukan tuhan
Ia bukan malaikat
Iapun bukan bidadari
Ia si perempuan jalang
Pergi!
Pergi menjauh
Jauh dariku
Jauh dari hidupku
Jauh...
Aku ingin hidup lebih lama
Seribu abad lagi
Tanpamu perenmpuan

Malam kelam berlarut
Kakek mebinasakan bara rokok
Asap rokok itu pergi
Aku mencari
Mencarimu asap rokok
Di mana? Di mana kamu
Aku ingin berceloteh lama lagi
Sayang, ia berlari
Menjauh...


Magelang, 26/10/15, 11. 13